Kepahiang, Liputan7news.com — Suasana malam di Liku Tebat Toha, Desa Daspeta 1, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, Jumat (17/04/2026), berubah menjadi forum penuh harapan. Puluhan warga memadati kediaman Gatot Kaca dalam agenda Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes), dengan satu tuntutan yang tak bisa lagi ditunda air bersih.
Di tengah keterbatasan sumber daya alam, wilayah ini selama bertahun-tahun menghadapi kesulitan mendapatkan air layak konsumsi. Struktur tanah yang didominasi batu menjadi hambatan utama, membuat upaya pengeboran sumur secara mandiri oleh warga kerap berakhir gagal.
“Sudah berkali-kali kami coba buat sumur bor sendiri, tapi selalu mentok di batu. Kami sangat berharap ada solusi nyata dari pemerintah desa,” ungkap salah satu warga dengan nada penuh harap.
Aspirasi itu pun menggema dalam forum, menjadikan pembangunan sumur bor sebagai usulan prioritas yang tak terbantahkan. Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Daspeta 1, Sahyar, menunjukkan sikap responsif meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran desa.
Dengan penuh keseriusan, ia menegaskan komitmennya untuk mencari jalan keluar.
“Insyaallah, pembangunan sumur bor akan segera kita realisasikan. Ini bukan sekadar program, tapi kebutuhan dasar masyarakat yang harus kita utamakan,” tegas Sahyar di hadapan warga.
Tak hanya berbicara soal program, momen tersebut juga menjadi refleksi bagi Sahyar yang masa jabatannya akan segera berakhir tahun ini. Dengan nada tulus, ia menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama memimpin.
“Saya mohon maaf jika selama ini masih banyak kekurangan. Semoga apa yang kita rencanakan ini bisa menjadi manfaat besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Menariknya, di sela-sela musyawarah, muncul pertanyaan dari warga terkait langkah politik Sahyar ke depan. Menjawab dengan santai namun penuh keyakinan, ia mengisyaratkan kesiapan untuk kembali maju dalam pemilihan kepala desa.
“Insyaallah saya akan mencalonkan diri kembali. Tapi semuanya kita serahkan kepada Tuhan,” ucapnya singkat.
Musrenbangdes malam itu ditutup dengan suasana optimistis. Warga mengaku puas atas respons cepat pemerintah desa, sekaligus menaruh harapan besar pada realisasi sumur bor yang selama ini dinanti.
Kini, harapan itu menggantung pada langkah nyata—apakah janji akan berubah menjadi solusi? Waktu akan menjawab, namun satu hal yang pasti: air bersih bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan perjuangan hidup bagi warga Liku Tebat Toha.
Pewarta: Eko Suwito | Liputan7news.com






