BATU BANDUNG- Keluarga Gita, warga Desa Batu Bandung, Kabupaten Kepahiang, akhirnya bersuara keras. Mereka mendesak aparat kepolisian segera mengambil sikap hukum yang tegas atas kasus kematian anggota keluarga mereka yang hingga kini dinilai masih menggantung tanpa kepastian. Bagi keluarga, waktu yang terus berjalan tanpa kejelasan justru memperkuat kecurigaan bahwa penanganan perkara belum berjalan maksimal.
Nada desakan keluarga kini berubah menjadi tekanan terbuka. Mereka menilai aparat tidak boleh berlama-lama dalam posisi yang dianggap abu-abu, sementara publik terus menunggu jawaban mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
“Kami minta polisi berani menentukan sikap. Jangan sampai kasus ini terkesan dibiarkan tanpa arah. Ini menyangkut nyawa manusia dan keadilan,” tegas perwakilan keluarga.
Yang memperkuat tuntutan keluarga adalah beredarnya tangkapan video dari salah satu akun Facebook serta sejumlah status media sosial yang disebut berkaitan dengan peristiwa sebelum maupun setelah kematian korban. Keluarga menduga materi digital tersebut menyimpan informasi penting yang dapat membantu mengungkap fakta sebenarnya.
Menurut mereka, keberadaan video dan jejak media sosial itu tidak boleh dianggap sekadar informasi biasa di ruang publik. Aparat diminta melakukan penelusuran forensik digital secara menyeluruh—mulai dari keaslian rekaman, waktu kejadian, hingga konteks percakapan atau unggahan yang beredar.
“Kalau memang ada video dan status yang berkaitan dengan peristiwa ini, harus diusut sampai jelas. Jangan sampai ada fakta penting yang terlewat,” ujar keluarga.
Desakan tersebut muncul karena keluarga melihat belum adanya kepastian arah penanganan perkara yang disampaikan secara terbuka kepada mereka. Situasi ini menimbulkan tekanan psikologis sekaligus memperbesar pertanyaan publik terhadap keseriusan aparat dalam mengungkap kasus.
Perkara kematian ini pun berkembang menjadi sorotan lebih luas. Ketua PRERADI Profesional Provinsi Bengkulu, RUSTAM EFENDI, S.H., MBA, sebelumnya juga meminta agar proses penanganan dilakukan transparan serta diawasi berlapis oleh Polda Bengkulu hingga Mabes Polri. Bahkan koordinasi disebut telah dilakukan dengan sejumlah institusi terkait untuk memastikan perkara berjalan objektif.
Bagi keluarga, persoalan ini kini telah melewati batas kesabaran. Mereka menegaskan hanya menginginkan satu hal: kebenaran yang jelas dan keadilan yang nyata. Namun di mata publik, kasus ini telah berubah menjadi ujian keberanian aparat penegak hukum dalam membuka fakta secara transparan.
Semakin lama kepastian tertunda, semakin besar tekanan yang muncul. Pada titik ini, bukan hanya penyebab kematian yang dipertanyakan, tetapi juga ketegasan aparat dalam menegakkan hukum tanpa keraguan. Jika kejelasan tak kunjung datang, yang dipertaruhkan bukan hanya keadilan korban—melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum itu sendiri. (Jul)






